Tahun Baru Gowes Ke Air Terjun Legomoro

Ya begitulah, apa yang kita rencanakan dengan matang, tetaplah Allah yang menentukan alur ceritanya untuk kita.


Perjalanan Gowes Tahun Baru Pulang Dari Air Terjun Legomoro

Yuk kita pulang, ibarat pepatah "sepandai-pandainya burung terbang, pasti akan pulang ke sarangnya".

Ya itulah kami, sejauh-jauhnya kami gowes, kami tidak akan lupa jalan untuk pulang, kecuali ada yang menawari kami untuk minum kopi di tengah jalan perjalanan pulang. Maka pulang kami akan menjadi lebih lama dari yang dijadwalkan. Heheheheh

Setelah berisitirahat dan makan siang kami melanjutkan perjalanan pulang. Tetapi setelah turun dari lokasi air terjun legomoro beberapa ratus meter, saya melontarkan perjalanan ke fauzi & edwan apakah pulang langsung sesuai jalur berangkat atau pulang lewat jalur lain dan mampir ke salah satu tempat wisata religius yang masih dalam satu area sini.

Tempat wisata religius yang saya maksud adalah Anta Boga. Wisata ini termasuk tempat wisata religius karena di dalamnya terdapat tempat ibadah bagi semua umat beragama. Mulai Pura, Mushola, Patung Maryam & Yesus, Patung Kerbau yang ditujukan untuk umat beragama dari masing-masing kepercayaan.

Okelah kata fauzi yang sudah terlanjur dekat lewat jalur ke arah wisata religi Anta Boga. Disini jalurnya agak menantang bagi kami. Karena jalur ini di dominasi jalan bebatuan yang membuat tangan kami pegal linu.

Disini saya membatasi untuk mengambil waktu sebentar, karena melihat mendung yang tebal dan menghitam di area ini. Kami mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan dan seterunya melanjutkan pulang menuju desa Sumberrejo Sempu.




















Sepulang dari sini, tangan kami mengalami sakit linu parah. Karena jalur dari Anta Boga menuju desa Sumberrejo jalannya rusak parah dan menurun. Sehingga kami antara menahan rem agar tidak melaju sangat cepat dan antara mencari jalur yang aman di antara kerusakan tersebut.

Sebelum menuju kota Genteng saya & fauzi sempatkan mampir di rumah Edwan untuk mencicipi keramahtamahan dari keluarga Edwan. Setelah dirasa cukup, kami melanjut pulang ke arah kota Genteng. Disini kami disambut hujan deras di sekitaran jalan lapangan RTH Maron. Kami memutuskan untuk berhenti dan memakai jas hujan. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Jajag, karena hari sudah mulai gelap dan memasuki magrib.

Kami lewat Genteng Wetan menuju Desa Canga'an dan menuju Yosomulyo. Di tengah perjalanan ini saya merasa kayuhan saya terasa berat dan semakin berat. Setelah beberapa puluh meter lepas desa canga'an barulah saya merasa bahwa ban belakang saya mengalami kebocoran.
Saya berusaha mengejar Fauzi yang terasa menjauh dari depan saya dengan tujuan untuk mengajak berhenti dan memeriksa ban saya. Karena hujan yang sangat deras dan lebat, saya mencoba teriak ke Fauzi tetapi tidak didengar. dan semakin jauh dari saya.


Saya memutuskan untuk berhenti di sekitaran POM Bensin Yosomulyo dan berusaha mengabari Fauzi lewat ponsel. Tetapi tidak ada jawaban dan tidak di angkat.
Ya sudahlah, saya mencoba memeriksa ban belakang dan ternyata memang mengalami kebocoran karena tertusuk isi staples ukuran cukup besar. Saya langsung melakukan penambalan dan sembari tetap mengabari ke Fauzi.

Setelah beberapa puluh menit, Fauzi menelpon balik saya dan mengabarkan bahwa ia sudah sampai dirumahnya. ASTAGA BAU BAB NAGA... Ya Salam....

Ia memang ngacirrrr setelah memasang jas hujan dari Genteng. Karena keburu gelap.

Untungnya kebocoran ini hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah, jadi masih terasa aman.

Memang perjalanan kali ini mengalami yang rasanya tantangan yang berkesan.